Anak Belum Bisa Baca? Jangan Panik!

Kepanikan orang tua, terutama sebagai ibu saat melihat anak-anak seusia-an anaknya sudah pandai ini itu, menjadi salah satu faktor pemicu dirinya untuk mengejar ketertinggalan anaknya. Padahal masing-masing anak memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda-beda.

Padahal anaknya dan anak orang lain mempunyai gen yang berbeda. Lingkungan keluarga yang berbeda. Nutrisi yang bereda. Maka jangan pernah sekalipun menyamakan anak-anak kita dengan anak orang lain. Apalagi menyamakan anak orang lain agar sesuai dengan anak kita

Allah menciptakan perbedaan bukan untuk lebih baik, atau lebih buruk. Tapi untuk berlapang dada, menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri serta orang lain. Bersyukur dan berusaha untuk lebih baik lagi.

Kepanikan agar anak bisa membaca pun terjadi di keluarga kami. Kesabaran dan kesadaran bahwa anak belum siap menjadi alarm agar memberikannya saat anak sudah siap.

De’ Na anak perempuan kecil kami yang baru berusia 5,5 tahun. Saat melihat kakaknya bisa membaca dengan lancar diusianya yang ke -7 tahun, ia selalu tak sabar ingin bisa membaca.

“Kapan dede belajar membaca lagi mi?”

“Nanti ya, kalau de’ Na sudah usia 7 tahun. Sabar dulu ya.”

Dia lalu terdiam. Dan melihat-llihat buku yang dibawanya.

Kenapa menunggu usia 7 tahun? Karena untuk mengurangi (kecepatan) keinginan orangtua, terutama saya sebagai ibu, agar anak bisa calistung. Mengurangi dan menyesuaikan kesiapan mental anak untuk bisa membaca.

Selama ini yang kami lakukan terhadap de’Na adalah menceritakan buku, apa efeknya? Alhamdulillah, de’Na bisa menceritakan kembali isi buku yang diceritakan kepadanya. Lebih dari 1 buku.  Ini adalah pencapaian yang luar biasa, menurut kami, untuk kesiapan anak bisa membaca.

Kalau dikenalkan ke belajar membaca a-ba-ca, masih suka bingung. Dikenalkan dengan metode flashcard, bingung. Dikenalkan dengan metode tulisan pada benda-benda dirumah, bingung. Tak apa… 😀

 Tapi alhamdulillah, de’ Na bisa menceritakan lagi cerita yang dibacakan kepadanya. Kadang ia berpura-pura membaca sesuai dengan apa yang ia pikirkan tentang buku yang dipegangnya.

Jpeg

Beberapa buku yang suka (pura-pura) di baca de’Na 😀 sumber : dokumen pribadi

 

Tak mengapa, tak perlu terburu-buru…menyiapkan mental anak untuk bisa membaca itu lebih penting.

Sulung kami, kami ajarkan membaca di usia sebelum 2 tahun, 3 tahun alhamdulillah sudah bisa membaca. Tapi disini kami evaluasi, itu terlalu cepat. Melihat psikologisnya yang kurang baik bila dipaksa membaca, maka selanjutnya dibiarkan saja. Hanya stimulan-stimulan untuk bisa membaca.

“Itu lho mas, ada tulisan di papan baliho itu. Coba ilmu membaca mas Sein dipakai.” Atau lain waktu saya berujar, “Ini lho mas, buku ini kan banyak tulisannya tuh. Ilmu a-ba-canya bisa diterapkan disini.

Ujaran-ujaran seperti itu saya kurangi. Lebih banyak bercerita, menceritakan isi buku. Alhamdulillah dalam pertumbuhannya anak jadi suka membaca. Bahkan lebih senang membaca Sein dari ibunya 😀

Menyediakan aneka buku bacaan, sering dibacakan kisah-kisah kesukaan anak, diajak ke perpustakaan, memberi contoh senang membaca, dan masih banyak lagi lainnya, adalah tips-tips untuk anak agar senang membaca.

Leave a Comment

 

— required *

— required *