Catatan Ibu

Catatan Ibu

Bertumbuh dan Berbagi Di Sekolah Kehidupan

From the blog

Bukan Sekadar Bekantan

sumber: dokumen pribadi. 
Hutan di atas, rumah di bagian bawah

 

“Dik, tahu engga tadi waktu mau berangkat Sholat Jum’at aku sama Abi lihat Bekantan di jalan. Ada dua ekor dari hutan karet di ujung itu mau menyeberang ke hutan karet di atas sana itu. Eh, tapi lihat kita jadi engga berani, deh. Mereka masuk lagi ke hutan,” celoteh Si Sulung setelah makan malam. Rasa kantuk dan lelah mengalahkan pendengaranku untuk ikut menyimak. Si Bungsu, yang masih belum sehat membutuhkan perhatian lebih. Sayup-sayup kembali terdengar..

“Wah, Bekantannya hidungnya besar ya, Kak,” tanya Si Tengah.

Biasanya melihat wujud Bekantan ini berupa patung saat berkunjung ke Kota Banjarmasin. Tepatnya di tepi sungai. Kali ini Si Sulung mendapat surprise melihat monyet berhidung besar di dekat tempat tinggal yang baru, Paringin, Kabupaten Balangan.

Bekantan merupakan binatang khas Kalimantan Selatan. Bekantan jantan berukuran lebih besar daripada betina. Spesies ini memiliki perut yang besar. Makanan binatang ini berupa buah-buahan, biji-bijian, dan dedaunan, yang menghasilkan banyak gas saat dicerna. Hal inilah yang menjadi efek samping perut buncit.

Ah, ingin sekali bergabung bercengkerama dengan kedua anakku dan suamiku di ruang tengah. Tapi badan serasa tidak mau diajak kompromi. Aku pun mendahului mereka…zz..zz.

***

“Pegang kakinya! Pegang kuat tangannya!” teriak laki-laki dengan rambut putih keriting. Badannya terlihat kekar. Aku menuruti saja. Mengikuti perintah laki-laki asing itu untuk memegang seorang anak remaja yang memberontak ingin mengobrak-abrik apa yang ada di depannya.

“Kita akan lihat siapa dia, setelah guru datang!” ucap laki-laki itu lagi Sebuah langkah tegap menghampiri kami. Anak lelak remaja yang dijaga dan dipegang erat tangan serta kakinya tetap meronta.

“Buka matanya, jangan sampai tertutup,” kata lelaki yang baru saja datang dengan suara tegas berwibawa. Anak remaja terus berontak, mencegah tangan kami. Seolah ia tak mau dipegang erat. Kedua tanganku berusaha membuka matanya yang terpejam. Begitu terbuka sesaat…

“Buuush…” tiupan lelaki berwibawa itu menerpa pupil Si Anak yang memberontak.

Hah! Aku terkejut bukan kepalang, mereka adalah sekumpulan Bekantan.

Astgahfirullah! Aku terbangun dari mimpi. Sunyi. Suami dan ketiga mutiara kami terlelap. Bekantan lagi. 

***

“Mas, kemarin sepertinya cerita tentang Bekantan, ya?” tanyaku pada Si Sulung.

“Iya, Umi. Ada apa memang?” jawab anak laki-lakiku penasaran

“Semalam Umi mimpi tentang Bekantan, sebelumnya Mas cerita tentang itu. Jadi ingat cerita teman kalau daerah tempat tinggal kita ini sebelumnya hutan yang angker.” ucapku dengan nada bergetar.

“Kata Ustad Khalid, kita itu khalifatul fil ard, pemimpin di muka bumi. Jadi kalau masuk hutan, sudah otomatis makhluk yang lain akan tunduk. Jangan kebalik.” sela suamiku agar aku tidak meneruskan cerita horor lagi.

Deg. Serasa tertampar. Kemana aqidahku selama ini?

“Oh, iya benar, Bi.” Jawabku malu.

Ketakutan itu mengikuti aliran darah. Bila dimunculkan dan dipanggil terus menerus, maka ia akan mengalir. Tapi bila dikendalikan, ia akan menjadi sebuah kekuatan, karena kita adalah makhluk-Nya yang istimewa.

#TM10Najmubooks   #TM10Wrc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 CatatanIbu.com . All Rights Reserved.