Keluar Dari Kotak Perkuliahan

Saat masih lajang, berteman itu pilihan. Memilih yang terbaik diantara yang baik. Menyesuaikan dengan kesamaan jiwa.

sumber: happyislam.com

Saat diri berwarna biru, akan indah bila berdampingan dengan warna merah, dan lainnya. Tapi bila dipaksakan terlihat kurang serasi. Itulah teman. Memilih yang sejiwa, sewarna, terbaik diantara yang baik. Bertemu, bisa saja saling diam dan mendiamkan. Tak saling sapa. sumber:duniaprofesional.com   Tapi, setelah bersentuhan dengan dunia kerja, maka teman kantor adalah temanmu. Mau atau tidak, mereka yang berwarna tak sesuai dengan warna dirimu akan memberi pengaruh warna pada jiwamu. Bila tak berteman dengan mereka maka kau sombong, kau angkuh. Itu barangkali stempel yang kau terima. Padahal disisi lain kau sedang menyesuaikan diri dengan dunia kerja yang begitu berbeda dengan dunia sekolah.

Dunia sekolah, ujianmu hanyalah selembar kertas. Saat kau tidak suka dengan temanmu, tinggalkan mereka. Berteman dengan yang sejiwa. Dunia kerja, meskipun hanya berisikan 10 orang, komposisi laki-laki lebih banyak. Perbedaan usia yang jauh. Kau baru anak kemarin sore, anak ingusan yang masih mencari pengalaman kerja, bak orang hilang. Tak ada pegangan, tak ada teman curhat, kecuali teman-teman kantor yang lebih senior.

Gaya hidup yang high. Gaulnya mereka. Pola pikir yang berbeda Mau tak mau, kau terima itu. Partner kerja yang lebih berpengalaman, dengan diri yang baru keluar dari kotak perkuliahan. Ditambah dengan tak sejiwa nya partner kerja. Daya tangkap di level minus. Membuat diri tak bisa berlari cepat. Akhirnya menerima stempel dan keluhan-keluhan dari mereka bahwa ‘kau lambat bekerja’ ‘kau kurang respon’ Oh tidaaaakkkkk, rasanya ingin menjerit saat semua stempel negatif menempel pada dirimu saat itu.

Jauh di dalam lubuk hati, kau ingin mengatakan kau tidak seperti itu. Tapi nyatanya memang begitu. Kau menguatkan diri untuk tetap bertahan di sana, di dunia yang 180® berbeda dengan dirimu. Tak sejiwa. Harus bertahan. Tetap bertahan. Selesaikan tugasmu. Selesaikan pekerjaanmu. Itu yang selalu di degungkan dalam dirimu. Hingga dititik terendah, instrospeksi dirimu mengatakan bahwa ‘kau harus keluar dari dalam kotak warna abu-abu itu’

Pindah dari kantor itu. Pindah. Hijrah. Pilih kantor yang suasananya tak terlalu jauh dengan warna jiwamu. Meskipun dengan kebesaran hati, kekuatan jiwa untuk bisa mengatakan ‘maaf’ pada orang yang telah menolongmu. Menjadi jembatan antara dirimu dengan kotak abu-abu itu. Niatan yang baik, tapi saat tak sewarna dengan dirimu, alangkah baiknya bila dilepaskan. Nurani yang menjerit karena perbedaan yang jauh harus didengarkan.

‘Maaf, tak bisa melanjutkan amanah untuk tetap bertahan di dalam kotak abu-abu’. Itu yang terlontar. Wajah yang ditekuk, masam, menjadi jawaban agar kaki segera keluar dari ruangan itu. Pamitan. Selanjutnya masuk ke kotak cokelat.

Penawaran lembut dan menusuk, harus ku terima. ‘Kau menghubungi ibu, pasti kau butuh pekerjaan’. Nyesekk . Serasa tak bisa bernafas. Hanya senyum yang terlontar, tertunduk menekuri lantai. Hanya hati yang bisa menjawab dalam diam. ‘Ya, saya membutuhkan pekerjaan dan suasana baru.’ Ya siapa aku? Kecil tak berarti….aku sadar itu. Kotak cokelat, berisi para teknokrat. Pengabdian masyarakat di dunia bencana alam. Urusanku, untuk anak ingusan sepertiku adalah bagian administrasi. Itupun aku masih merasa lamban sangat. Daya tangkap yang semakin minus. Tak apa, aku belajar disini. Aku bisa, pasti bisa.

Kotak cokelat masih saja menyelisihi nurani. Tanda tangan di selembar kertas yang berisikan nota uang yang kau terima, padahal sepeserpun tak ada di tangan. Sabar, tenang, kau hanya alat untuk menyelesaikan sebuah persoalan keuangan. Disanapun siapalah dirimu, kau hanya honorer yang tak berarti. Tak berpengalaman. Tak pintar. Ikuti atau kau keluar jua dari kotak itu. Do’a ya hanya doa, hingga akhirnya kau bisa keluar dari kotak cokelat untuk masuk ke kotak biru. Agar kau berkarya lebih nyata. Berkarya lebih banyak lagi.

sumber: pixabay.com

Ya kotak biru, sebuah keluarga yang akan kau bina hingga ke surga-NYA.

Leave a Comment

 

— required *

— required *