Catatan Ibu

Catatan Ibu

Bertumbuh dan Berbagi Di Sekolah Kehidupan

From the blog

Lorong Waktu dan Uniknya Paringin

sumber gambar: dokumen pribadi

Film lorong waktu yang pernah di tonton dulu, seringkali menyedot perhatianku. Apalagi Doraemon dengan pintu kemana sajanya. Ish, imajinasiku mengembara. Membayangkan sekiranya aku bisa balik ke masa kecil, memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat atau menolong orang yang seharusnya ditolong. Tapi itu mustahil, hanya alur cerita buatan manusia.

Untuk bisa merasakan hidup sepuluh tahun ke belakang, atau suasana tempat tinggal kita sewaktu kecil, tak perlu lorong waktu. Sungguh!

Perbuatan tidak bisa diulang, tapi suasana masa lalu bisa dirasakan sekarang. Awal menginjakkan kaki di Kalimantan, mengalami jet lag jiwa raga. Adaptasi lingkungan berhari-hari, bahkan bertahun-tahun 😀 Pertama kali hidup di Pulau Borneo serasa hidup di masa aku anak-anak. Suasana lingkungan sekitar tempat tinggal dengan kotanya yang sederhana, memutar memoriku dengan hawa pedesaan dan lengangnya tempat tinggalku di Jawa. Tapi seiring berjalannya waktu, Kota pertama kali yang aku tinggali di Kalimantan mengalami perubahan. Batulicin, Tanah Bumbu berkembang pesat dan selalu mempercantik diri.

Kini, aku tinggal di kota yang membuatku pun kembali berpikir, ini suasana sekitar aku masih kecil dan hidup di Jawa. Lengang, sederhana, dan minim sentuhan modernitas.  Sebuah kota kabupaten,  kota yang konon di bawahnya masih tersimpan batu bara, Paringin, Balangan, Kalimantan Selatan.

“Kantor Desa di desa yang tadi aku datangi sederhana, duduknya lesehan. Orang-orangnya sederhana sekali. Kebanyakan pekerjaan mereka menoreh di kebun karet. Logat bicaranya, khas Banjar pedalaman. Berbeda dengan orang-orang Banjar yang pernah kita temui pada umumnya. Ada aksen khusus dari mereka, aku jadi belajar, hehe..” terang suamiku sekembalinya dari pekerjaannya. Aku mengiyakan saja, karena hampir semua orang yang ditemui, pembawaannya sederhana.

Di sini tidak ada angkutan kota, jadi kalau pergi berkendaraan  sendiri atau jalan kaki. Pernah suatu waktu melihat beberapa orang ibu yang entah berjalan dari mana tampak kelelahan berjalan menuju pasar. Tapi dari wajahnya, senyumnya merekah.

Jauh dari laut, maka harus menerima resiko makan siomay yang minim kandungan ikannya 😀 Iya, di Paringin penjual siomay dan batagor bisa dihitung dengan jari, tidak lebih dari lima. Mereka satu produksi, satu rumah, dan asalnya pun sama dari Jawa Barat.

Rumah sakit? ada, bahkan biaya rumah sakit untuk pasien umum tanpa BPJS tanpa asuransi apapun, terbilang cukup murah bila dibandingkan dengan tempat tinggalku sebelumnya. Hanya saja untuk menuju RSUDnya harus menaiki gunung dan melewati lembah. Paseinnya berubah dulu menjadi Ninja Hatori 😀 Kasihan kalau mau lahiran di rumah sakit, keburu bayinya lahir di jalan.^_^

Pasar Modern Adaro, Paringin. Sumber: dokumenpribadi

Itu salah satu uniknya tinggal di pedalaman Kalimantan. Ada satu hal lagi yang membuatku suka terpana.. Di sini, orang-orang dari pedalaman turun gunung di saat hari pasar, yaitu hari Senin. Monday is Market Day. Jadi setiap hari Senin, pasar modernnya sepi penjual, tidak ada yang jualan di situ. Semuanya tumpah ruah di jalanan, mengular sepanjang jalan. Untuk harga barang-barang kebutuhan sehari-hari lebih murah dari hari biasanya.

Sepanjang jalan di depan Pasar Modern Adaro akan penuh saat hari pasar, bahkan lebih panjang lagi. Sumber: dokumen pribadi

 

Kembalilah kepada kesederhanaan hidup, karena se-modern apapun kehidupan yang di jalani itu semua tidak akan berarti kalau sudah mati. Barangkali ini salah satu pelajaran hidup yang bisa aku petik selama tinggal di Paringin.

 

#TM10Najmubooks   #TM10Wrc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 CatatanIbu.com . All Rights Reserved.