Melukis Warna Diri Menjadi Agen Perubahan

pelangi

sumber: google.com

 

Di dunia ini, ada banyak warna. Seperti layaknya pelangi, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.

Semuanya indah, dan keindahan itu terjadi karena saling melengkapi. Merah yang berdiri sendiri, ia tidak indah.

Ia memberikan keberanian, tapi dalam kondisi tertentu memberi secercah rasa takut. Hijau yang menyelimuti hamparan sawah, kurang menakjubkan saat tidak ada secuil kuning. Segaris cokelat. Secuil kuning  memberi makna keindahan.

Segaris cokelat memberikan kekuatan  untuk menopang. Biru yang menutupi langit, terasa hampa bila tidak ada semburat warna putih yang menjadikan ia terasa dekat dan menenangkan hati bagi siapa saja yang melihatnya.

Semburat warna putih menampilkan keserasian dengan biru langit. Indah. Menakjubkan. Menenangkan. Hitam membawa ketegasan, tapi bila semuanya hitam, atau semuanya putih, maka bisa jadi semua manusia buta warna.

Hehe… Di alam semesta ini, keindahan yang telah diciptakan-NYA serasi, selaras, seimbang dan saling melengkapi. Demikian juga manusia.  Masing-masing memiliki warna tesendiri dalam hidupnya yang telah ditentukan oleh-NYA.

Meskipun ia hanya secuil warna kuning, tapi ia memberikan makna keindahan saat ia melukisnya dengan kesungguhan. Meskipun ia hanya semburat putih yang berada di depan samudera biru di langit, tapi ia menawan hati. Jadi lukislah warna dirimu, sesuai dengan yang telah dilukiskan-NYA kepadamu. 

Setiap orang berbeda. Setiap orang punya kelebihan yang bisa ia gunakan untuk memberi warna bagi kehidupan sesama.

Menurut Dr. Aidh Al Qarni “Perpindahan dari salah ke benar adalah pertarungan panjang, tetapi sangat indah.” Ya, bisa jadi memang saat ini kita tidak berada pada warna hidup yang sudah menjadi ketentuan-Nya, yang sudah dikaruniakan kepada diri. Untuk itu, diperlukan keinginan untuk memperbaiki diri.

Kekuatan untuk merubah diri. Menjadi lebih baik. Menjadi lebih bermanfaat untuk sesama. Tidak ada perubahan tanpa pertolongan Allah. Tanpa petunjuk Tuhan yang telah menciptakan alam semesta. Meskipun lahiriahnya berubah, tapi bila dia merasa bahwa perubahannya itu terjadi karena usahanya. Maka dia sombong dan belum berubah batinnya.

Perubahan yang baik adalah perubahan total. Lahir dan Batin. Di semua aspek kehidupan. Disayangkan, saat sudah menjadi kaya tapi tidak mau bersedekah. Tidak mau berbagi.  Ia akan seperti Qorun yang tamak dan bakhil. Disaat sudah berilmu tidak mau mengamalkan, tidak pula mengajarkan. Ilmunya tidak akan bertambah.  Statis.

Perubahan yang terjadi dalam kehidupan adalah karena pertolongan Allah dan juga tangan-tangan Allah melalui hamba-hamba-Nya. “Allah menyesatkan siapa yang Dia Kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” –Qs. An Nahl :93 Tapi, di ayat lain disebutkan : “Allah memberi petunjuk kepada orang yang bertaubat kepada-Nya.”-Qs. Ar Ra’du: 27

Untuk itu, saat diri ingin berubah perlu petunjuk dan hidayah dari Allah. Tapi untuk bisa mendapatkannya diperlukan usaha. Berjuang mendapatkannya. Bukan menunggu.

Lalu dari mana kita memulai perjuangan untuk menggapai hidayah, mendapatkan petunjuk dari Allah? Pertama, menemukan pintunya. Pintu gerbang hidayah, pintu gerbang petunjuk, pintu gerbang perubahan adalah kesadaran. Kesadaran akan jalan hidup yang dilalui, benar atau salah. Bila jalan kebenaran, jalan perubahan yang ia lalui dilakukan bukan karena kesadaran maka ia riskan untuk kembali ke sifat buruknya. Kembali ke warna sebelumnya.

Kedua, harus mau membuka pintu ilmu. Pintu ilmu itu akan selalu tertutup, kita akan tahu isinya kalau dibuka. Seperti halnya buku. Saat melihat sampul buku, bagian belakang buku sekilas. Tanpa membukanya. Maka kita tidak akan tahu dibagian mana dari buku itu. Di bagian mana dari kalimat atau halaman di buku itu yang bisa merubah, yang bisa memberikan motivasi, yang bisa memberikan inspirasi buat kita untuk berubah.

Salah satu indikasi perubahan seseorang adalah berapa banyaknya ilmu yang bisa merubah dirinya untuk beramal sholeh. Yang bisa menjadikannya seorang yang rendah hati.

Terus, Ilmu mana yang dipelajari? Ilmu yang bersumber pada Al- Qur’an. Kenapa Al Qur’an? Karena dengan membaca Al Qur’an maka berita kehidupan kaum masa lalu dan kehidupan masa depan bisa diketahui. Al Qur’an adalah petunjuk bagi yang bertakwa. (Qs. Al Baqarah: 2)

Sikap manusia atas diturunkannya Al Qur’an ada 2 macam: Pertama, Mahjur. Menurut bahasa adalah terhalang. Orang yang mahjur adalah orang yang nyata-nyata dan terang-terangan mengabaikan petunjuk Al Qur’an. Siapakah Mahjuroh itu?

  1. Orang yang enggan membaca Al Qur’an
  2. Dia mau baca Al Qur’an tapi enggan memahami
  3. Mau baca, mau memahami tapi enggan merenungkan
  4. Merenungkan tapi tidak mengamalkan
  5. Mengamalkan tapi enggan menyampaikan.

Kedua, Majhur. Adalah orang yang nyata-nyata dan terang-terangan menerima Al Qur’an. Atau orang yang berusaha untuk selalu membaca, memahami, merenungkan, mengamalkan dan mengajarkan Al Qur’an.

Bagaimana caranya agar termasuk ke dalam orang yang Majhur? Berusaha menjadi orang yang muhsinin. Muhsinin dicapai setelah ia menjadi muttaqien. (Qs. Ali Imran 133-134) Muttaqin adalah orang yang mulia dan tinggi derajatnya di hadapan Allah swt. Qs. Al Hujarat -13 Muhsinin, dijadikan Allah sebagai kekasih dan orang yang paling di sayang-Nya. Qs. Ali Imran:134 Ciri-Ciri orang muhsinin (Qs. Lukman : 2-4) menjadikan Al Qur’an menunjuki dirinya.

Pertama, mendirikan sholat. Tenaga untuk mendirikan sholat adalah dengan cinta dan rindu.

Kedua, Menunaikan zakat. Mendatangkan zakat. Maksudnya membawa dan memberikannya kepada orang yang berhak menerima dan setelah itu tidak mengungkitnya. Bukan sebaliknya, meminta yang diberi (si miskin) untuk mendatangi si kaya. Akibatnya sering terdengar berita pingsan atau meninggal dunia karena terinjak-injak saat sedang mengantri zakat.

Ketiga, Yakin akan hari akherat sehingga tidak mengharapkan balasan dari siapapun selain Allah swt. Jadi orang muhsinin adalah orang yang terus berjuang untuk bisa mencintai dan merindukan Allah, merasa bahagia menolong sesama, dan mencukupkan balasan hanya dari Allah swt.

Kiat-kiat menjadi muhsinin adalah dengan memilih amal kebaikan yang membuat kita punya kesempatan untuk bisa melepas keinginan (syahwat) pada kesenangan duniawi. Misalnya : Puasa, membuat kita terlepas dari syahwat makanan. Qiyamullail, membuat terlepas dari syahwat tidur. Berinfak dengan segala hal yang di sukai, membuat terlepas dari syahwat harta.

Adapun aspek-aspek kehidupan yang perlu berubah menurut Jasiman Lc antara lain:

Pertama Aqidah. Perubahan di aspek inilah yang mengawali perubahan pada aspek-aspek lain. Aqidah yang bersih membuat seseorang berpindah dari kemusyrikan, atesi, paganisme menjadi tauhid. Dari kufur menjadi iman. Dari riya menjadi ikhlas.

Kedua Ruhani. Jiwa yang tadinya sombong jadi tawadhu’ Jiwa yang  tadinya keras dan kasar jadi lembut Jiwa yang egois jadi peduli Jiwa yang gelisah jadi tenang Jiwa yang bakhil jadi dermawan Perubahan dimulai dari yang kecil. Niat untuk berubah menjadi lebih baik. Niat untuk menjadi agen perubahan.

Selanjutnya menjadi individu yang baik, menyenangkan, ikhlas, dermawan dan bermanfaat untuk sesama. Pada akhirnya ia akan memberi warna pada kehidupan sesuai dengan warna yang telah digariskan-Nya. Lebih dari itu semua.

Kekuatan untuk berubah dan merubah yang terbesar adalah do’a. Jangan lelah untuk berdoa dan mendoakan orang yang dicintai, keluarga, saudara, handai taulan, orang yang baik, orang yang kurang baik. Agar mereka semua mendapat limpahan rahmat, karunia dan perlindungan dari Allah swt.  

Leave a Comment

 

— required *

— required *