Mengelola Negatif Menjadi Positif

 

harum-positif

gambar diambil dari: slideshare.net

Dekat dengan penjual minyak wangi, orang yang mendatanginya, mendekatinya akan ikut merasakan keharumannya. Mencium aromanya. Merasakan sensasinya. Dekat dengan pandai besi, orang yang mendatanginya, mendekatinya, melihatnya akan terkena kilatan apinya. Mencium asapnya. Atau terbakar karenanya.

Begitu pula dengan energi positif. Orang yang memiliki energi positif, dari pancaran wajahnya akan memberikan ketenangan. Dari aura dirinya memberikan kesejukan. Dari apa yang dikeluarkan dari lisannya menyentuh hati.

Positif akan menarik dan memberikan banyak energi positif ke sekelilingnya. Akibatnya banyak orang yang dekat dengan positif. Karena ia memberikan semangat hidup. Harapan baru. Demikian pula dengan negatif. Melihat orang yang tampak murung akan memberikan suasana hati ikut murung.

Aura negatif memberikan rasa takut dan khawatir. Apa yang keluar dari lisan orang yang negatif akan menyakitkan hati. Negatif akan memberikan banyak energi negatif ke sekelilingnya. Saat mendekati negatif, orang akan cenderung menjauhinya.

Menjadi positif atau negatif dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tumbuh Seperti layaknya sebuah biji, bila biji itu berkualitas tapi tumbuh di tanah yang kurang subur atau gersang maka bisa jadi benih itu tidak tumbuh.

Kalaupun tumbuh ia kurang indah. Meskipun berada di lingkungan yang positif, tapi kalau dalam diri belum ada keinginan untuk merubah negatif menjadi positif, ia tetap negatif. Apalagi saat kecilnya berada di keluarga yang kurang motivasi, ini menjadi akar dari hal-hal yang negatif.

Teman yang baik Sahabat yang baik Guru yang baik Keluarga yang mencintai Lingkungan yang baik Tidak akan berpengaruh pada seorang yang negatif, kalau kesadaran dalam dirinya untuk menjadi lebih baik tidak ia munculkan.

Energi negatif biasanya muncul karena adanya perbedaan antara dirinya dengan yang dilihatnya. Akibatnya ia iri, benci, dengki, dan muncullah perasaan-perasaan yang tidak baik lainnya. Kecemasan muncul hingga negatif menumpulkan kemampuan diri untuk berpikir jernih. Hukum daya tarik menarik pikiran.

Jika kita pikirkan tentang keburukan seseorang, secara tidak sadar akan menarik berbagai keburukan lagi. Energi negatif harus menjadi bahan bakar untuk menciptakan banyaknya energi positif. Hingga ia bisa bermanfaat ke sekitarnya Negatif akan mengalami kejenuhan. Hingga ia memberikan energi untuk berubah menjadi positif.

Seperti fotografi menggunakan negatif untuk menjadi positif. Saat melihat keburukan seseorang, atau melihat hal yang tidak berkenan di hati. Bercerminlah. Bisa jadi keburukan itu melekat pada diri kita. Atau lebih buruk lagi. Carilah 1001 alasan saat melihat kesalahan orang lain. Maafkan. Ingatkan dengan lembut. Bukan untuk dirinya, tapi untuk diri sendiri agar produksi energi negatif berkurang dan hilang. Prasangka baik, positif akan membuat kita nyaman dengan siapa saja. Mendatangkan hal-hal baik lainnya.

berpikir positif

gambar diambil dari: indoblog.blogdetik.com

 

Demikian pula sebaliknya, prasangka buruk membuat hidup penuh dengan ketakutan, kecemasan dan kebencian.

Untuk itu saat satu energi negatif datang, lawanlah dengan berpuluh-puluh energi positif. Agar si negatif tidak menguasai diri.

Menuliskan masalah yang mengakibatkan munculnya energi negatif, positifkan diri, yakin. Selesaikan satu persatu. Lima energi untuk mengelola negatif menjadi positif, Pertama, buatlah pikiran yang positif. Yakin dengan hal yang baik.

Percaya diri yang baik. Kedua, perasaan yang positif. Saat ada bad mood, lawanlah. Tersenyumlah. Carilah suasana yang membuat bad menjadi good. Lihatlah langit. Bila perlu tidurlah di tanah yang lapang, pandangilah langit.

Ketiga, ucapan atau kata-kata yang baik, yang positif. Meskipun di dalam hati bad, ucapkan lisan yang baik. Yang memotivasi diri sendiri.

Keempat, buatlah kebiasaan-kebiasaan yang baik. Bergerak yang baik. Misalnya olahraga. Ini akan memberikan suasana hati lebih fresh. Badan lebih bugar. Berolahraga ringan semisal jalan kaki berkeliling komplek. Jalan kaki tanpa alas kaki. Menikmati keindahan alam sekitar, menyerap kebaikan alam untuk diri.

berubah itu pilihan

gambar diambil dari: merdeka.com

 

Leave a Comment

 

— required *

— required *