Mengenalkan Lingkungan Yang Mulai Terkikis

Anak tumbuh di lingkungan yang berbeda dengan orang tuanya. Perubahan alam dan sosial menjadi penyebabnya. Disamping karena faktor pekerjaan, disitulah orang tua tinggal dan melahirkan serta membesarkan anak-anaknya.

Perbedaan lingkungan tumbuh anak kami, berbeda jauh dengan lingkungan kami lahir dan dibesarkan. Tapi alhamdulillah masih di Indonesia. Kami dibesarkan di Jawa, dan merantau ke Kalimantan. Maka disinilah anak-anak tumbuh dan berkembang. Kondisi lingkungan alam yang masih perawan, menjadi tantangan tersendiri untuk menjadikannya sebagai media pembelajaran. Lingkungan sosial yang masih asing, membutuhkan adaptasi yang tidak sebentar.

Daerah pesisir pantai, angin laut yang seringkali menyapa menjadi media yang indah untuk bermain dan belajar. Saat mengenalkan lingkungan alam sekitar, suatu ketika kami membawa anak-anak untuk mengenal daerah tambak alami. Tak jauh dari rumah. Tapi disayangkan, daerah lahan mangrove dan tambak sudah tertimbun tanah. Disisi lain hanya meninggalkan bekas genangan air yang mengering, karena musim kemarau yang panjang. Yang dikenalkan adalah tambak yang sudah tidak ada, bekas tambak dan sisa-sisa kerang yang tinggal kulit.

Pertumbuhan kota kecil di sudut Kalimantan Selatan ini cukup signifikan. Rawa-rawa ditimbun tanah untuk dijadikan perumahan ataupun perkantoran. Hutan-hutan dibabat. Ada asa bahwa kota ini akan tumbuh menjadi kota metropolis, tapi ada gundah karena berkurangnya rerimbunan pohon yang menjadi ciri khas Borneo. Itulah yang dilihat, yang dipelajari.

Hilang karena tak di rawat, tak menarik. Kering karena kemarau. Meskipun memelajari sesuatu yang tidak ada untuk dipelajari, tapi dengan itu anak tetap belajar. Belajar arti ketidakadaan. Belajar untuk menjaga alam. Anak senang karena diajak berjalan-jalan. Melihat lingkungan sekitar tempat dia tumbuh. Anak senang orang tuapun ikut senang ^_^

Leave a Comment

 

— required *

— required *